Sholawat Bertaburan di UNJ

Tadi malam, 19 Mei 2017 dilangsungkan acara UNJ bersholawat di Gedung Serbaguna Kampus B UNJ. Kegiatan yang menghadirkan Habib Luthfi bin Yahya dan KH. Zulfa Mustafa ini sekurangnya diikuti 2000 orang peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, karyawan UNJ serta tamu undangan yang berasal dari masyarakat umum. 
Acara dimulai dengan pembacaan Al Qur’an, diikuti dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars “Yalal Wathon” serta pembacaan Pancasila. Selanjutnya dilakukan pelantikan  pengurus MATAN, Mahasiswa Ahlu Thariqoh An Nahdliyyah Komisariat UNJ yang kemudian dilanjutkan pembacaan maulid simtut durar yang diiringi oleh grup Hadrah Babus Shalawat.

Dalam tausiyahnya, Wakil Ketua MUI Jakarta, KH. Zulfa Mustafa merasa kagum bahwa di kampus umum seperti UNJ ada kegiatan UNJ bersholawat. “Apalagi disertai pelantikan pengurus mahasiswa tarekat, ini luar biasa”.
 Selanjutnya KH. Zulfa Mustafa menceritakan kisah mengenai Kyai Syahid yang kedatangan dua orang kandidat kepala desa (kades) meminta untuk didukung dalam pencalonannya sebagai kepala desa. Kandidat pertama berjanji bahwa ia akan menyumbang ini itu untuk kepentingan ummat Islam, sedangkan kandidat kedua menceritakan bahwa ia ingin jadi kades untuk melakukan dapatkan tanah bengkok. Diantara dua kandidat kades, keduanya diiyakan, tapi kandidat kedua ditambah dengan dido’akan. Santri Kyai Syahid kemudian bingung, mengapa kandidat kades kedua yang kemudian didoakan bukan yang pertama. Kyai Syahid kemudian menjawab: “zahirnya kandidat pertama itu baik, tapi di dalamnya menyimpan ambisi yang besar, karena ia tidak sama antara  yg dipikirkan dan diucapkan. Berbeda dengan kandidat kedua, ia polos, antara apa yang dipikirkan dan ditampilkan adalah sama. Tentu saja, menurut pandangan saya, yang kedua masih bisa diayomi untuk berbuat baik, tapi tidak yang pertama” . Hal inilah yang dinamakan proses pendekatan hati, bukan hanya melihat hal yang tampak saja. 
Setelah tausiyah dari KH. Zulfa Mustafa, kemudian dilanjutkan dengan Mau’izhoh yang disampaikan Al Habib Luthfi bin Yahya. Dalam Mau’izhoh nya Habib Luthfi menekankan bahwa Islam dan nasionalisme adalah suatu hal yang berjalan beriringan. Bahkan dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme dari kedatangan Portugis, kaum ulama adalah para pejuang yang menentang kedatangan kolonial. “Hanya saja kita terkadang lupa, bagaimana berterima kasih atas perjuangan yang mereka lakukan”. Tidak lupa, Habib Luthfi juga mendoakan agar UNJ menjadi kampus yang lebih hebat, baik dari sisi akademik intelektual maupun dari segi spritual.
Kegiatan UNJ bersholawat ini, merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalies UNJ ke 53.

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..