Siyasah Ala Pesantren

Politik atau siyasah itu istishlaah an naasi `ilaa thoriiqoiil munjiy dunyan wa ukron , usaha-usaha perbaikan masyarakat yang menuju jalan menyelamatkan, dunia dan akherat.

Oleh karena itu ulama ada yang menghukumi wajib, ada yang menghukumi fardhu kifayah.

Yang lebih diingat lagi bahwa melihat arti siyasah di atas, menunjukkan bahwa politk itu mempunyai tujuan mulia. Yang kotor itu pelakunya.

Konon, ketika Irian Barat belum diserahkan ke NKRI, maka Presiden Soekarno berkonsultasi kepada Mbah Kyai Wahab Khasbulloh, tentang pandangan Islam kaitan masalah Irian Barat.

Maka dijawab Mbah Wahab dengan fathul qorib, itu hukumnya ghoshob. Yaitu Al Istiila `ala haqqil ghair `udwanan, menguasai hak orang lain secara dholim.

Ditanya lagi, bagaimana cara penyelasaiannya. Dijawab lagi oleh Mbah Wahab, ala kitab kuning, dengan cara perdamaian atau ishlah. Baru jika tidak mau, akhodzahu qohron, diminta secara paksa.

Yang unik lagi tentang kisah Nabi Khidir yang merusak perahu yang akan ditungganggi Beliau dan Nabi Musa. Oleh Nabi Musa diprotes, tetapi tidak dijawab dulu oleh Nabi Khidir. Ini juga mengandung hikmah siyasah, bahwa konsep siyasah bisa diumumkan kepada orang banyak, tetapi strategi siyasah dan tujuan siyasah dirahasiakan.

Inilah sekelumit siyasah ala pesantren.

( Disarikan dari Rekaman Pidato Mbah Dim Kaliwungu )