Strategi Konsolidasi Politik Kiai Wahab

Setelah NU berdiri menjadi partai tersendiri yang terlepas dari Partai Masyumi tahun 1952, para pimpinan perlu kembali mengubah NU dari paradigma ormas menjadi paradigma partai politik. Ini sebuah pekerjaan besar untuk mengubah konsep. Selain itu agenda tersebut juga harus disosialisasikan ke bawah, karena itulah para pimpinan partai tertinggi NU seperti Kiai Wahab Chasubullah dan KH. Idham Cholid sendiri yang melakukan kegiatan turba (turun ke bawah) untuk konsolidasi Partai NU ke Jawa Tengah, pada 1953. Langkah ini penting untuk menghadapi Pemilu 1955.

Namun, walaupun keduanya telah mengirim telegram tetapi tidak satupun aktivis partai yang menjemput mereka ke stasiun kereta api. Kebetulan ketua NU setempat adalah pegawai Departemen Agama, sementara Menteri Agamanya adalah Fakih Usman dari Masyumi. Ketua NU itu ketakutan karena terancam posisinya di Depag akan digeser.

Saat itu mengaku NU memang masih riskan karena setelah organisasi ini keluar dari Masyumi langsung dituduh memecah belah ukhwah Islamiyah. Padahal alasan NU keluar dari Masyumi bukan untuk memecah belah, tetapi karena ada perbedaan ideology politik dan strategi politik. Apalagi di Masyumi NU tidak pernah dihargai, hanya dijadikan pendulang suara. Sementara ketika PSII keluar dari Masyumi tahun 1948 tidak pernah dituduh demikian. Maka banyak orang NU di Masyumi yang belum berani menunjukan identitas ke-NU-annya.

Setelah mereka berdua berputar-putar ke kota, Idham Cholid menawarkan pada Kyai Wahab untuk beristirahat di losmen. Sang Kiai menolak, “lebih baik kita sembahyang dulu ke masjid.” Ternyata ke masjid tidak hanya untuk sembahyang, kesempatan itu digunakan Kiai Wahab untuk menyelidiki keadaan. Kiai itu menanyakan kepada jama’ah tentang kondisi NU dan Masyumi di daerah itu. Akhirnya semua kejanggalan itu terkuak, ternyata para tokoh NU yang kebetulan menjadi pemimpin di Depag setempat telah pergi ke luar daerah, untuk menghindari pertemuan dengan para pimpinan NU itu.

Menghadapi situasi ini Kyai Wahab tidak kalut, dengan tenang ia berusaha mengontak satu persatu para pimpinan NU tadi. Setelah berhasil mengkoordinasi mereka, lalu direncanakan mengadakan rapat kerja dengan para tokoh NU setempat termasuk dengan pejabat Depag yang menghindar tadi.

Pertemuan itu dirahasiakan, hanya dihadiri semblan orang tetapi dianggap cukup banyak oleh Kiai Wahab. Walaupun hanya dihadiri Sembilan orang, tetapi karena pidato Kiai Wahab yang berapi-api itu melahirkan suasananya heroik, sehingga terasa dihadiri oleh Sembilan ribu orang. Demikian menurut kesaksian KH. Idham Cholid, sambil berujar “yang banyak belum tentu baik, tetapi yang baik selalu banyak berarti”.

Setelah para aktivis NU mendapat briefing dari Kiai Wahab, sejak saat itu mereka tidak lagi canggung mendukung partai NU. Dengan jaminan pribadi dari Kiai Wahab. Mereka tidak khawatir lagi diintimidasi oleh Masyumi, bahkan telah siap tempur menghadapi Pemilu 1955. Disitulah letak keberhasilan NU dalam mengelola politik, di mana para Kiai langsung bersentuhan dengan masyarakat bawah, sehingga rakyat termotivasi dan selalu optimis, dan menghasilkan kemenangan besar.

Usaha keras yang dilakukan para pimpinan itu membuahkan hasil yang sangat besar, NU hanya memiliki waktu dua tahun, bisa menduduki posisi ketiga dalam Pemilu, sementara banyak partai yang lebih pengalaman tetapi hanya mendapat lima sampai sepuluh kursi saja. Persentuhan dengan rakyat itulah kunci keberhasilan NU, sementara partai yang lain hanya mengurusi elitnya, sehingga tidak mendapat suara. Suara rakyat diberikan pada pemimpin yang merakyat seperti para kiai NU.

 

Sumber; Biografi Idham Cholid

Tulis tanggapan anda: