Suara negeri

malam itu aku bermimpi, dalam mimpi yang sangat lama mengurai tentang perjalanan panjang sejarah negeri ini. setelah sekian lama negeri ini di-nahkodai oleh 6 nahkoda hebat dan sekarang masuklah nahkoda ke-tujuh.

dari tujuh nahkoda yang membawa kurang lebih 250 jt penumpang mengarungi samudera yang sangat luas tanpa terlihat daratan, banyak perubahan yang signifikan (menurut mimpi itu). setelah aku bangun, ehh ternyata negeri tidak seindah dalam mimpiku, berbagai macam problematika negeri yang terpaksa membuatku bangun dari mimpi, aku sadar ilmuku tak sehebat para nahkoda-nahkoda itu, tetapi tekad dan usaha selalu memotivasi diri melihat keadaan saat ini serba amburadul. kita diberikan PR yang sangat banyak oleh para nahkoda terdahulu, seakan-akan kita generasi muda menanggung beban dari perbuatan tercela yang mereka lakukan dimasa itu. entah bagaimana kita menjawab semua PR yang begitu banyak ini, seandainya diberikan pilihan, aku akan memilih untuk terus bermimpi tanpa bangun lagi…

negeriku sebentar lagi engkau memasuki usia tua (72 Tahun), akan tetapi kamu masih tetap begini-begini saja, korupsi dimana-mana, hukum tajam kebawah tumpul keatas, rakyatmu masih banyak yang jauh dari kata Sejahtera. banyak elit yang hanya mengKAYAkan dirinya dan kelompoknya. entah sampai kapan seperti ini, apakah besok, lusa atau seribu tahun kemudian tetap seperti ini? seandainya engkau bisa biacara wahai negeriku, aku akan memberikan kamu berbicara sepuasnya. sungguh betapa kami malu padamu negeri, kami makan sehari-hari dari hasil badanmu, kami minum hasil dari perutmu, bahkan kami mengeluarkan kotoran sekalipun masuk kedalam dirimu. kamu tak sedikitpun marah kepada kami. wahai negeri, dahulu banyak deretan pembelamu ketika kamu dihancurkan bahkan diambil oleh orang asing. tapi sekarang seakan-akan semua sirna sudah. 

penulis : Rizal Ladiku (penulisjalanan)

jaya indonesia

sebagai anak nelayan dari lamakera, saya melihat indonesia itu sepeti kapal tua, yang berlayar tak tahu arah, arahnya ada hanya nahkoda kita yang tak bisa membaca, mungkin dia bisa membaca tapi tertutup hasrat membababi buta.

hasrat hidupi keluarga saudara, kolega dan mungkin istri muda

indonesia memang seperti kapal tua dengan penumpang berbagai rupa. ada dari sumatera, jawa, madura, sumbawa hingga papua bersatu dalam nusantara. enam kali sudah kita ganti nahkoda tapi masih jauh dari kata sejahtera.

nahkoda pertama sang proklamator bersama hatta membangun dengan semangat pancasila dan terkenal dikalangan wanita, iya pernah berkata mampu guncangkan dunia dengan sepuluh pemuda, tapi itu kurang satu untuk tim sepak bola, kalau begini kapan ikut piala dunia

nahkoda kedua 32 tahun berkuasa, datang dengan program bernama pelita, bapak pembangunan bagi mereka, bagi saya tidak adanya bedanya

nahkoda ketiga sang wakil yang naik tahta, mewarisi pecah belahya masa orba, belum sempat menjelajahi samudera iya terhenti ditahun pertama, dibanggakan di eropa dipermainkan di indonesia, jerman dapat ilmunya, kita dapat antrian panjang nonton filmnya

nahkoda ke empat sang kiayi dengan hati terbuka, iya terhenti dalam sidang istimewa ketika tokoh-tokoh repormasi berebut istana

nahkoda kelima, nahkoda pertama seorang wanita, dari tangan ibunya bendera pusaka tercipta, kata bapaknya berikan aku sepuluh pemuda, namun apa daya itu diluar kemampuan ibu beranak 3

nahkoda ke enam bagian A, dua pemilu mengungguli perolehan suara, dua kali disumpah atas nama garuda, tapi itu hanya awal cerita, cerita panjangya terpampang dibanyak media. LAPINDO, MUNIR, CENTURY, HAMBALANG, kami menolak lupa.

materi abdur sang stand up komedi