Sudah Sejahterakah Para Nelayan Indonesia ?

Jakarta – Kesejahteraan masyarkat merupakan prioritas utama pemerintah Indonesia, sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945. Diperayaan Hari Nelayan Nasional 6 April 2017, wujud kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya seringkali tidak mencapai target yang diharapkan. Entah itu, mendapat hambatan dari faktor internal maupun faktor eksternal.

Dalam satu tahun kepengurusannya Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo – Jusuf Kalla, dulu mereka menjanjikan kebijakan kelautan “masa depan Indonesia ada di laut”, disampaikan pada sidang terbatas kabinet kerja pada bulan Juni lalu. Sehingga, potensi kelautan harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahtaraan masyarakat. Kendati demikian, mari bersama melek terhadap capaian tersebut, agar kebijakan tersebut, kedepan bukan kembali sebatas wacana saja yang ditradisikan.

Kita akui, kondisi geografis Indonesia, menurut data empirik tentang luas wilayah laut Indonesia adalah 64,97% dari total wilayah Indonesia, yang jika diuraikan adalah : (a) Luas Lautan = 3.544.743,9 km² (UNCLOS 1982), (b) Luas Laut Teritorial = 284.210,90 km², (c) Luas Zona Ekonomi Ekslusif = 2.981.211,00 km², dan (d) Luas Laut 12 Mil = 279.322,00 km², inilah data yang menunjukkan betapa luasnya laut Indonesia.

Mengingat statement, Staf Ahli Menko PMK bidang Kependudukan, Sonny Harry Harmady pada 10 Juli 2016 lalu. Ia menjelaskan bahwa secara geografis, populasi nelayan yang ada di seluruh wilayah Indonesia sangatlah tidak sebanding dengan luasnya lautan Negara, hal ini tidak mengherankan karena dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan yang memiliki potensi perikanan terbesar di dunia.

Secara keseluruhan jumlah nelayan di Indonesia diperkirakan sebanyak 2,17 juta (hanya 0,87 persen dari jumlah tenaga kerja Indonesia). Diantaranya ada sekitar 700.000 lebih nelayan yang berstatus bukan sebagai kepala rumah tangga. Sebagian besar nelayan tinggal tersebar di 3.216 desa yang terkategori sebagai desa nelayan (yaitu area yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan). Provinsi dengan jumlah nelayan paling banyak di Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur (mencapai lebih dari 334.000 nelayan), diikuti Jawa Tengah (lebih dari 203.000 nelayan) dan Jawa Barat (sekitar 183.000 nelayan). Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh berturut-turut menjadi provinsi dengan jumlah nelayan terbanyak ke-4, ke-5, dan ke-6 di Indonesia. Jumlah nelayan paling sedikit ditemui di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara.

Sonny, memahami angka tersebut menunjukkan bahwa “luas lautan” Indonesia “tidaklah sebanding” dengan“jumlah nelayan” yang ada saat ini. Lantas, apakah permasalahan pada kurangnya sumber nelayan menjadi permasalahan nelayan itu sendiri?. Jawabannya iya, jika kita melihat berbagai persoalan mendasar masih banyak dihadapi para nelayan Indonesia. Meski sudah lama mengemukakan, pemerintah belum mampu mengatasinya. Jujur saja tingkat kesejahteraan nelayan masih belum sesuai yang diharapkan. Seperti persoalan klasik, yang hampir dialami seluruh nelayan di Indonesia, bahwa nelayan tidak memiliki tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan mereka (Gudang Pendingin), penggunaan kapal yang masih tradisional, sehingga jangkauan berdampak pula pada jumlah tangkapan ikan, belum lagi perahu yang digunakan merupakan perahu konvesional (masalah kursial).

Padahal, nelayan di negara lain sudah mengadopsi kapal-kapal modern. Tidak hanya itu, nelayan-nelayan di Indonesia pun minim informasi penting saat mereka hendak melaut. Sehingga informasi hanya dilakukan berdasarkan catatan perkiraan. Tidak diberikannya jalur untuk mendapatkan satelit. Harusnya di kampung nelayan ada informasi, kapan ada badai. Membaca ikan, Agustus ini musim ikan apa ?

Kondisi ini berbeda dengan industri perikanan besar yang sudah memiliki alat-alat yang lebih modern. Tak sampai disitu, tingkat pendidikan nelayan pun tergolong rendah. Masih banyak lagi, beberapa permasalahan teknis yang menghambat kesejahteraan nelayan, sebagian besar masih nelayan tradisional dengan karakteristik sosial budaya yang belum kondusif. Kemudian, struktur armada penangkapan yang masih didominasi usaha kecil/tradisional dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang rendah. Dari jumlah itu, hanya 4.487 unit kapal yang tergolong modern, sedangkan 241.889 unit kapal ikan masih berupa perahu tanpa motor. Selanjutnya, ada ketimpangan pemanfaatan ikan di 80% perairan Pantai Utara Jawa dan di laut dangkal.

Maka dari penyampaian masalah ini, merupakan salah satu langkah untuk mengingatkan kembali untuk melaju kesejahteraan nelayan yang masih belum sepenuhnya tersentuh akan dorongan pemerintah yang ekstra serius. Semoga di Hari Nelayan Nasional semua elemen masyarakat dan pemerintah mengingat kembali kesejahteraan masyarkat yang diamanatkan UUD 45. Saling bahu membahu, mendorong demi Indonesia sejahtera, adil, dan makmur. Maju rakyatnya, senang hidupnya.

One thought on “Sudah Sejahterakah Para Nelayan Indonesia ?

Tulis tanggapan anda:

%d bloggers like this: