SUDIRMAN; CERITA SEBUAH KEGIGIHAN

Sudirman Said adalah sebuah nama yang cemerlang hingga akhirnya memperoleh amanah dari Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebagai pejabat negara, kita bisa mendapatinya dalam balutan pakaian yang rapih, kacamata yang hampir tak pernah lepas, kumis yang terawat dan segala warna pakaian yang khas pejabat lainnya.

Satu kata yang terlihat asik: dia terlihat mewah.

Tapi bagaimana Sudirman muda? Dengan hanya memperhatikan keadaan hari ini tanpa melihat kegigihannya hingga sekarang, kita mudah terpesona dan lupa bahwa segala prestasi atau capaiannya bukanlah sesuatu anugerah atau kebaikan Tuhan saja. Tuhan adalah orang yang tak buta dan tak tuli. Kebesaran adalah untuk mereka yang tak lelah untuk berjuang. Dan Sudirman Said telah membuktikannya.

Sudirman muda adalah seorang yang percaya bahwa kegigihan adalah sebuah jalan untuk mencapai segala apa yang dicita-citakan. Mimpi dan harapan hanya sejalan dengan kesanggupan untuk berjuang. Jika sebaliknya yang terjadi, yakni tanpa ada kegigihan berjuang, harapan akan tetaplah harapan, mimpi akan tetaplah mimpi. Selamanya. Demi mimpi dan harapan, pendidikan selalu merupakan jalan yang bisa meningkatkan posisi status sosial seseorang. Sudirman kecil adalah seorang yang sangat mencintai pendidikan.

Seperti diceritakan oleh kakak kandungnya, Tanti Said, Sudirman kecil masuk SD sekitar usia 5 Tahun, usia yang sesungguhnya belum cukup untuk masuk sekolah dasar. Dalam pengakuan kakaknya, dia sekolah SD diajak saudaranya yang bernama Dono. Mengingat usianya masih 5 tahun, maka Sudirman kecil tidak masuk pada daftar buku sekolah.

“Karena waktu itu usia belum mencukupi maka Sudirman tidak masuk pada buku daftar sekolah. Baru pada kelas 2 Sudirman masuk daftar siswa,” terang Tanti (http://brebesnews.co/2014/10/menteri-esdm-sudirman-said-sejak-sd-hingga-sma-jadi-juara-kelas/).

Sudirman kecil membuktikan kecintaannya dan kesungguhannya belajar sejak dari kecil. Pembuktian itu bisa ditunjukkan melalui prestasinya yang dia ukir sejak di bangku SD hingga SMA. Dia seringkali meraih juara kelas. Bisa juara 1 (satu) atau 2 (dua). Prestasi itu dia pertahankan hingga SMA. Selepas SMA, dia mengambil jurusan bahasa Inggris di UNS (Solo). Tetapi sebab suatu alasan, yakni jurusan tersebut bukan S1 melainkan D3, dia akhirnya memilih Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Selepas S1, dia memiliki hasrat untuk melanjutkan S2. Keinginannya itu memang tidak lekas tercapai. Barangkali faktor ekonomi atau apapun yang menjadi hambatannya. Dalam sebentar, waktunya yang senggang dia pergunakan untuk bekerja. Tetapi tak lama, dia akhirnya melanjutkan kegigihannya untuk belajar di S2. Tak tanggung-tanggung, dia mengambil studi di Master Bidang Administrasi Bisnis di George Washington University, Washington, DC, Amerika Serikat.

Kegigihan untuk belajar adalah cara Sudirman muda untuk mencapai segala cita-citanya.

Pasca pendidikannya yang cemerlang, Sudirman akhirnya banyak dipercaya menduduki posisi penting dalam pekerjaan. Mula-mula di PT. Pertamina, lalu PT. Petrosea (2013), dan dipercaya Dahlan Iskan untuk memegang kendali PT. Pindad (Persero). (http://brebesnews.co/2014/10/menteri-esdm-sudirman-said-sejak-sd-hingga-sma-jadi-juara-kelas/)

 

Sekali lagi, dari Sudirman kita belajar satu hal: kegigihan adalah jalan menuju harapan.

Tulis tanggapan anda: