Sudirman Said; Sebuah Pilihan yang Pantas

Syarat penting, tapi seringkali terabaikan, untuk menjadi pengabdi negara, seseorang mestilah memiliki rekam jejak yang bersih dan memiliki keberanian untuk melawan segala bentuk kejahatan. Apa yang jahat bagi negara adalah salah satunya, yang terparah, adalah korupsi. Ini bukan kejahatan biasa melainkan sebagai ‘extraordinary crime’ (kejahatan luar biasa).

Sudirman Said adalah sebuah nama yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) dalam Kabinet Kerjanya 2014-2019. Mengapa dia dipilih? Barangkali sebuah keberuntungan hidupnya tapi tidak semata-mata itu: Sudirman Said adalah seseorang yang memiliki jejak rekam yang baik untuk ditunjuk sebagai pengabdi bagi negara.

Jokowi mengakui melalui komentarnya, bahwa memilihnya adalah melalui pertimbangan penting. Beginilah komentar Jokowi saat menunjuk Sudirman Said:

“Kita ingin mendapatkan orang-orang yang terpilih, orang-orang yang bersih, sehingga kita mengkonsultasikan kepada KPK dan PPATK karena kita ingin akurat, karena kita ingin tepat, dan kita semua tentunya percaya kepada KPK dan PPATK” (http://economy.okezone.com/read/2014/10/27/19/1057352/alasan-jokowi-tunjuk-sudirman-said-jadi-menteri-esdm).

Kementerian ESDM adalah kementerian yang, barangkali jika dibandingkan dengan kementerian lain, paling banyak diincar. Bukan rahasia lagi, kita sudah terbiasa dengan berbagai berita tentang orang-orang tertentu sebagai mafia migas dan sebagainya. Dipilih di dalam jabatan itu, seseorang perlu memiliki kekebalan diri melawan godaan kekayaan itu. Tidak sekedar itu, dia juga harus berani melawan segala bentuk penyimpangan yang barangkali lahir dari bayangan-bayangan mafia migas.

Sudirman Said adalah satu pilihan. Dia memiliki jejak rekam yang bagus terutama dalam persoalan komitmennya melawan korupsi.

Pada tahun 2000, dia mendirikan apa yang disebut sebagai Masyarakat Transparansi Indonesia (MIT) dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG). Kelahiran organisasi ini merupakan buah dari pikiran Sudirman Said bahwa salah satu persoalan korupsi adalah absennya keterbukaan anggaran keuangan. Transparansi, kemudian, menjadi kata yang begitu melekat dalam diri Sudirman Said yang begitu kuat ia perjuangkan. Dia begitu gigih dan aktif untuk menyoal persoalan transparanis dari berbagai pengelolaan keuangan terutama lembaga negara. Melalui MIT dan IICG, dia menuntut perilaku bersih dalam mengelola kekuangan negara dan perusahan.

Tahun 2005-2007, Sudirman Said menjabat sebagai Deputi Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas (BRR) Aceh-Nias. Pada saat itu, demi transparansi dan pengawasan dan bantuan, dia membentuk apa yang disebut sebagai Satuan Anti Korupsi (SAK). Tugasnya adalah mendidik semua pemangku kepentingan di Aceh dan Nias pasca Tsunami.

Keteguhan dan keberaniannya dalam menegakkan transparansi dan pengawasan nampaknya merupakan komitmen moral yang tak bisa ditunda. Dalam dirinya, kewajiban moral itu mengalir begitu kuat. Kiprahnya yang berani dan lurus itu dan penuh komitmen moral membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah.

Jokowi tentu saja memilih Sudirman Said sebagai Menteri ESDM bukan sekedar ia adalah seorang yang memiliki komitmen moral untuk melawan korupsi. Dia telah mempelajari jejak rekamnya dan Presiden mengetahui bahwa ia sosok yang tepat, yang memiliki kematangan dalam memimpin. Seperti dikatakannya sendiri:

“Yang kita pilih, selain kemampuan di bidangnya juga mempunyai operasional leadership yang baik” (http://economy.okezone.com/read/2014/10/27/19/1057352/alasan-jokowi-tunjuk-sudirman-said-jadi-menteri-esdm).

 

Sudirman Said adalah perpaduan dari komitmen moral dan kematangan leadership. Saat Jokowi memutuskannya sebagai bagian dari Kabinet kerjanya, dia telah menunjuk orang pantas.