Surat Terbuka Untuk Mahasiswa Baru Unisma Bekasi

Dear Mahasiswa Baru Unisma Bekasi

Dik, selamat datang di kampus yang penuh dengan rindang pepohonan. Selamat menghirup udara kesejukan saban pagi tiba. Selamat menjalani hari-hari sebagai Siswa yang Maha. Cepatlah mendewasa, karena perguruan tinggi tentu jauh berbeda dengan kehidupan di sekolah. Segera ubah pola pikir dan cara pandangmu.

Dik, di Unisma Bekasi, kau bisa salurkan minat dan bakat di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang telah disediakan. Sekitar 15 UKM menanti kedatanganmu. Mereka ingin melakukan kaderisasi. Silakan pilih. Besok, 14 September 2017 Gebyar UKM dilakukan, sebagai bentuk pengenalan UKM kepada mahasiswa baru yang masih unyu-unyu.

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni (DIKA) menjadi payung dan pengayom dari ke-15 UKM itu. Dialah fasilitator. Menginisiasi fasilitas kepada UKM yang dinilai masih perlu pengembangan. Melakukan pengawasan dan mengucurkan anggaran setiap tahun demi terciptanya kemaslahatan UKM. Ya, maslahat.

Dik, kau harus tahu. Bahwa ada beberapa UKM yang ternyata belum memiliki ruangan sekretariat. Sementara DIKA sangat instan mengambil keputusan. Ruang Laboratorium Teater Korek yang notabene sudah menjadi episentrum kebudayaan Bekasi, akan disekat-sekat untuk dijadikan beberapa ruang. Orang-orang DIKA tentu tidak tahu kaidah Ushul fiqih “Al-Muhafadzhotu ala qodimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah.” Jelas tidak tahu, karena mungkin tidak pernah ngaji. Mungkin.

Teater Korek itu, Dik, tidak sedang mempermasalahkan ruangan yang akan ditiadakan. Sama sekali tidak. Karena teater tidak membutuhkan ruang. Teater bisa hidup kapan dan di mana pun. Namun, ada hal yang mesti kau tahu, Dik.

Pertama, beberapa tahun lalu ruang Laboratorium Teater Korek itu dikosongkan oleh pihak kampus selama kurang lebih 2 tahun. Awalnya ruang itu adalah musala. Kemudian, saat masjid Al-Fatah sudah diresmikan, ruangan itu dibiarkan tak berpenghuni dan hampir tak berfungsi. Dengan sangat inisiatif, para pendahulu Teater Korek melakukan pembersihan dan pengembalian fungsi atas ruang itu. Yakni dijadikan sebagai ruang untuk berproses dan bergerilya dalam gerak kebudayaan.

Hingga Kampus Unisma Bekasi dikenal sebagai malaikat rahmat karena sudah menyelamatkan wajah Bekasi. Sebab, ada anekdot, kota atau daerah yang tidak memiliki ruang kebudayaan dianggap sebagai daerah yang tidak berkeadaban.

Kedua, sejak dulu pihak kampus dalam hal ini DIKA seolah tak punya cara pandang yang jernih. Apakah tidak punya proyeksi ke depan bahwa UKM akan bertambah sehingga harus memikirkan fasilitas ruang untuk sekretariat? Kenapa kok malah mematikan yang sudah ada, bukan menciptakan yang belum ada? Barangkali orang DIKA mesti ngaji tentang “maqashid syariah” atau tentang makna “maslahah”.

Ketiga, kalau ruang Laboratorium Teater Korek dijadikan beberapa ruang di dalamnya. Maka, tentu DIKA sudah gagal menjadi pengayom. Bicara keadilan, jelas seperti api yang jauh dari panggang. Di tempat itu, banjir sering berkunjung. Bukan tumpah dari sungai, tetapi muncul dari bawah tanah. Bagaimana adil? Sementara UKM yang sudah lebih dulu lahir sudah nangkring bebas di gedung Student Centre.

Keempat, mahasiswa setiap tahun bertambah. Kemudian, bayaran pun semakin naik. Untuk bayaran per-SKS misalnya. Saya, angkatan 2014, dihargai Rp135.000. Saban tahun, pasti naik. Silakan, Dik, kau tanya kakak tingkatmu yang kini semester 3. Maksudku, sangat mustahil kalau pihak kampus tidak mampu membangun gedung baru untuk memfasilitasi UKM yang berada di bawah naungannya. Atau, jangan-jangan virus korupsi sudah menjangkiti tubuh mereka? Naudzubillah, jangan sampai.

Kelima, aku berpesan, kau harus hati-hati. Jangan mudah percaya dengan omongan yang seakan menenangkan macam zat adiktif. Memang begitu mereka diciptakan. Untuk berkata manis, tapi sebenarnya mereka adalah pembunuh berdarah dingin.

Dan, sekali lagi kuucapkan. Selamat datang. Semoga tidak ada penyesalan di lain waktu. Kalau ada, jangan anggap itu sebagai sesal, tapi sebagai pemicu untuk melakukan pendobrak kebatilan. Di sini kalian diuji. Benar katakan benar, salah katakan salah. Jangan menjadi munafik. Cukup Tuhan ciptakan mereka dan dijadikannya kaum munafik. Sementara kau, jangan sampai.

Karawang, 12 September 2017

Aru Elgete

Aru Elgete

Pecandu nona manis si penikmat kopi pahit. ☕

Tulis tanggapan anda: