Surat Untuk Sahabat Aminuddin Ma’ruf

Sampean Takut ?

 

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

Jakarta, (5/5/2017) – Kepada yang terhormat; Seniorku, Ketua Umum ku, Orang Nomor Satu di PMII ku Sahabat  Aminuddin Ma’ruf yang kami cintai, dan kami banggakan, semoga selalu dalam keadaan sehat wal’afiat, serta sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

 

Mohon maaf Tum, surat yang saya buat ini tidak menggunakan model surat sebagaimana mestinya di PMII, seperti tidak ada Kop, tidak ada nomor surat, tidak ada lampiran, apalagi proposalnya, tidak !. Akan tetapi saya Haqqul Yaqin, bahwa isi surat ini kurang dan lebihnya saya tulis sebagai bentuk sayangnya seorang Kader, dan Tabayyun kepada Ketua Umumnya yang telah mengurusi urusan yang besar di PMII, terlebih kita sesama Kader PMII Jakarta. Maklum, sekarang lagi musim berita Hoax, maka Tabayyun-lah sebagai penangkalnya.

 

Sebelumnya saya beritahu dahulu, saya ini hanya seorang Kader dari PMII Jakarta yang benar-benar merasakan, dan tahu seperti apa, dan bagaimana perjuangan Ketum dalam memajukan PMII. Mulai di pengurusanmu ini lahirnya sistem kaderisasi yang baru plus ketat administrasi, ide-ide kembali ke Pesantren dan Masjid, merenovasi Sekretariat PB PMII menjadi terlihat anyar nan indah dilihat, dan mungkin masih banyak segudang keberhasilan lainnya yang patut diapresiasi. Akan tetapi Pak Ketum tidak perlu khawatir, saya bukan tipikal kader yang apabila kepepet akan melakukan tindakan pemecahan kaca, dan chaos. Kehadiran saya sebagai kader InsyaAllah tidak akan membuat sampean menjadi takut.

 

Begini Pak Ketum, dari sekian banyaknya kesuksesan yang sampean lakukan, kok saya tidak mendapatkan esensi dari label seorang Ketua Umum, seorang Leader (Sahabat Mulyadin biasanya nyebut Chairman) yang sampean emban. Entah saya yang terlalu bodoh, atau saya yang memang belum se-level dengan sampean. Dan contoh kesuksesan yang saya sebutkan tadi seperti hanya cover/bungkusan yang bisa bikin opini seolah-olah “berhasil”. Mengapa saya tidak mendapat sisi sampean bak seorang Chairman ? sebab, dari kontestasi Konkoorcab PMII DKI Jakarta kemarin yang telah memakan waktu satu tahun lebih, dan melelahkan banget itu, ada beberapa indikator :

 

Pertama, ketika Konkoorcab bulan April tahun lalu mengalami deadlock (masing-masing kandidat Sahabat Don Gusti Rao, dan Daud Azhari mendapatkan score 2 – 2), solusi yang dibangun atas dasar kekeluargaan di PMII DKI Jakarta, dan diamini oleh sampean juga adalah bahwa setiap Kandidat diganti oleh Kandidat yang baru dengan mekanisme membuka pendaftaran kembali. Dari PMII Jakarta Selatan, sahabat Don Gusti Rao digantikan oleh Sahabat Yayan Saputra dengan ikut pendaftaran kembali. Tetapi kenyataannya, Jakarta Pusat tetap dengan kandidat yang sama. Pertanyaannya, mengapa sampean diam saja Tum ? kenapa tidak bersikap ? apakah dilemparkan begitu saja urusan ini ke Ketua Tim Karateker ? sampean takut ?.

 

Kedua, Konkoorcab dimulai lagi di kontrakan PB PMII (karena saat itu sekretariat PB PMII masih ngontrak sementara), seiring berjalannya waktu, dan pelaksaan Konkoorcab tersebut sangat legal karena telah disepakati oleh seluruh peserta Konkoorcab untuk mensukseskan Konkoorcab yang telah lama deadlock tersebut, walaupun Jakarta Pusat melakukan walk-out di tengah jalan. Walhasil, Sahabat Yayan Saputra terpilih menjadi Ketua dalam Konkoorcab PMII DKI Jakarta secara aklamasi, sebab Sahabat Daud tidak menghadiri (bila ingin tahu kenapa mereka walk-out, dan kandidat tidak hadir, silakan tanya kepada yang bersangkutan). Pasca-Konkoorcab tersebut, saya dan peserta Konkoorcab kembali dikumpulkan oleh Pak Ketum di rumah makan Miskun. Dalam pertemuan tersebut memang membahas soal Konkoorcab, sampean juga bilang tegas kepada kami “pertemuan ini tidak menghasilkan hukum apapun, saya hanya sebatas ingin tahu soal Konkoorcab kemarin, soalnya bagaimanapun juga saya ini kader PMII DKI Jakarta”. Masih ingatkah sampean Tum ?. Dalam pikiranku, ini mengartikan bahwa keputusan Konkoorcab kemarin (Sahabat Yayan terpilih) itu adalah final, dan tidak bisa diganggu-gugat kembali. Kalau rumah makan Miskun bisa ngomong, pasti akan ngomong yang sama seperti saya. Kemudian pada kenyataannya, tiba-tiba sampean meminta Konkoorcab harus diulang. Gerangan dan gerungan apa yang bikin sampean berubah pikiran ? ada tekanan tah ? kemana komitmen seorang Ketua Umum PB PMII itu ? apa sampean takut ?

 

Kurang lebih dua indikator itu saja sudah cukup buat sampean ya Tum. Mohon maaf kalau isi suratnya terlalu banyak. Sekali lagi, ini dalam rangka sayangnya saya dan Tabayyun kepada sampean, makanya surat ini diberi judul Sampean Takut ?. Sekian.

 

Ilmu & Bakti Kuberikan, Adil & Makmur Ku Perjuangkan

Wallahulmuwafiq Ilaa Aqamith-thariq

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

 

Salam Hormat

 

Muhammad Rohim Hidayatullah

(Ketua Cabang PMII Jakarta Selatan 2016 – 2017)