Syawwal sebagai Orkestra Kebhinekaan

Oleh: agus salim thoyib (Pemred jagatngopi.com)

 

Syawwal adalah bulan ke sepuluh dari duabelas bulan kalender Hijriyah (Islam). Secara bahasa, Syawal berasal dari kata syala yang mempunyai 3 arti yaitu naik (irtifa’), ringan dan membawa. Dikatakan naik, karena diasumsikan kedudukan umat Islam secara gradual meninggi setelah melampaui bulan penempaan diri (ramadhan). Diartikan dengan ringan berangkat dari asumsi bahwa umat Islam diharapkan meringankan diri untuk melaksanakan ibadah baik wajib maupun sunah di bulan Ramadhan seperti meringankan diri untuk berpuasa, shalat tarawih, tadarus al-Qur’an, dan amalan lainnya. Sedangkan dimaknai dengan membawa berawal dari asumsi bahwa bulan Ramadhan sebagai bulan turunnya al-Qur’an diharapkan umat Islam pascapuasa mampu membawa (mempraktekkan) apa yang terkandung dalam al-Qur’an di kehidupan sehari-hari.

Syawwal adalah bulan yang agung dan relatif ditunggu ummat Islam di antero dunia. Karena pada bulan ini banyak peristiwa yang telah dan akan terjadi daam spektrum sejarah umat Islam. Dikatakan telah terjadi, karena pada bulan syawwal beberapa peristiwa yang mempengaruhi peradaban Islam terjadi yang antara lain, pertama, bahwa pada 17 Syawal, umat Islam di zaman Rasulullah SAW terlibat dalam Perang Uhud. Pada peperangan tersebut, umat Islam mendapatkan pelajaran penting, karena mengalami kekalahan yang selanjutnya diabadikan dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 165.

”Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Kedua, pada bulan ini Rasululullah mengenalkan strategi bertahan untuk meyerang dalam perang khandaq yang di belakang hari banyak ditiru barisan tentara di belahan dunia yaitu dengan membuat parit sebagai wahana bertahan sekaligus menyerang. Paritisasi sebagai strategi perang ini adalah ide cemerlang dari sahabat Rasulullah, Salman al-Farisy yang melihat betapa bala tentara Quraisy dengan sekutunya (yahudi dan Ghatafan) yang berjumlah 10.000 personil tidak mungkin dilawan dengan strategi perang konfrontasi (berhadap-hadapan) mengingat tentara umat Islam hanya berjumlah 3000 orang. Strategi perang tersebut selanjutnya terbukti jitu, umat Islam mampu memenangkan pergolakan perang yang terhitung fenomenal itu.

Ketiga, Syawwal adalah bulan di mana Rasulullah SAW mempersunting Siti Aisyah, Putri abu Bakar as-Shiddiq RA. Gadis belia yang cantik dan cerdas yang kelak mempersembahkan ribuan hadits. Dalam beberapa sumber dinyatakan jumlah hadits yang disanadkan Siti Aisyah paling banyak dibandingkan dengan sanad lain. Sekalipun tidak langsung hidup bersama, pasca Rasulullah mempersunting Siti Aisyah di bulan Syawwal pula –ditahun yang berbeda (setelahnya)- Rasulullah mulai hidup bersama dengan Aisyah. Keempat. Syawwal adalah bulan di mana ulama besar periwayat hadits Nabi di lahirkan –Imam Bukhari. Terlahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah pada 13 Syawal 194 H. Imam Bukhari kecil diberi nama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Klan keluarga Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari lah yang selanjutnya mengantarkan ulama periwayat hadits tersebut lebih dikenal dengan Imam Bukhari. Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur di antara para ahli hadits sejak dulu. Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam al-Bukhari berhasil menuliskan sebanyak 9.082 hadis dalam karya monumentalnya bertajuk al-Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Selanjutnya, dikatakan banyak peristiwa akan terjadi yang melingkupi bulan syawal adalah setidaknya karena bulan Syawwal adalah rangkaian bulan setelah Ramadhan (bulan turunnya al-Qur’an) di mana umat Islam melakukan “lelaku spiritual” melalui puasa selama satu bulan penuh dan diakhiri dengan perayaan Hari Raya di tanggal 1 Syawwal (Idul Fitri). Iedul Fitri adalah hari Agung yang paling dinanti seluruh Umat Islam di dunia, karena pada hari-hari inilah sukacita tertumpahkan dalam aneka rasa syukur dengan rangkaian amalan sosial-keagamaan yang mengiringi, termasuk Indonesia sebagai negara yang penganut Islamnya terbesar di dunia. Selanjutnya, salah satu keagungan bulan syawal adalah sebagaimana disebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ayyub RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR Imam Muslim dan Abu Dawud).

Sampai di sini, seperti yang penulis sebutkan bahwa pada bulan syawal sukacita umat Islam tertumpahkan dengan rasa syukur melalui kegiatan sosial-keagamnaan, maka dalam konteks ke-Indonesia-an dengan segala aneka khazanah kulturalnya banyak rangkaian peristiwa yang mengiringi bulan syawwal. Secara derivatif peristiwa yang mengiringi perayaan lebaran Idul Fitri (Syawwal) di Indonesia bisa diketengahkan sebagai berikut.

Arus Mudik Lebaran

Setiap meghadapi bulan syawwal, sebagian masyarakat Indonesia melakukan perayaan dengan berbagai kegiatan. Di Indonesia perayaan Syawwal dimulai dengan gerakan masa pulang kampung atau yang sering disebut dengan mudik. Fenomena mudik lebaran di Indonesia boleh disebut sebagai gerakan kultural paling unik terbesar di dunia. Kenyataan ini mengingat tingkat sebaran urbanisasi masyarakat lintas daerah di Indonesia begitu sumebar lintas daerah. Ihwal ini berdampak pada keterlibatan pemangku kepentingan di seluruh sektor kebermasyarakatan, bahkan Negara hadir dalam mengawal kesuksesan arus mudik. Di sebut unik, karena teknis mudiknya dengan berbagi cara dan ciri khas tersendiri, seperti berkonvoi naik motor, bersama istri dan sanak saudara dan aneka kendaraan lain seperti mobil pribadi, bus, kereta, kapal laut, bahkan truk yang sehari-harinya untuk ngangkut hewan bisa dijadikan sarana untuk pulang kampung. Dalam tenggat waktu tertentu (satu minggu pra lebaran) jutaan masa bergerak ke daerah asal masing-masing dengan tujuan untuk merayakan lebaran syawwal dengan bersilaturahmi ke sanak keluarga di kampung asalnya.

Halal bi Halal

Halal bi Halal adalah satu-satunya tradisi perayaan hari raya yang hanya ada di Indonesia. Halal bi Halal merupakan institusionalisasi kultural sebagai wadah berkumpul dan saling bermaafan antar sesama dengan beragam kemasan acara. Halal bi halal secara tematik diilhami oleh ide KH. Wahab Chasbullah ketika memberikan saran kepada Ir. Soekarno saat melihat gejala terberainya para tokoh nasional. ketika itu tensi dan eskalasi politik bangsa  memanas karena terjadi pembrontakan DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun. Dalam konteks ragam perayaannya dengan berkeliling yang muda ke yang tua dan atau masyarakat biasa ke rumah para tokoh/tetua diilhami oleh tradisi kraton tepatnya era Pangeran Sambernyawa (Mangkunegar I) yang membiasakan di setiap 1 Syawal, masyarakat biasa, abdi dalem sampai dengan petinggi keraton melakukan sungkeman dengan Raja. Sedangkan substansinya tetap sama yaitu melestarikan ajaran Islam yaitu silaturahmi antar sesama. Sampai sekarang, tadisi halal bi hala terus dilestarikan di lapisan masyarakat Indonesia dengan beragam cara dan disesuaikan dengan budaya di masing-masing daerah. Bahkan tradisi halal bi halal sudah merambah kerbagai institusi baik pemerintahan, kalangan swasta-profesional, organisasi kemasyarakatan, dan entitas sosial lainnya.

Arus Balik Lebaran

Setelah mudik dan melangsungkan perayaan lebaran melalui halal bi halal, secara sporadis, masyarakat (khususnya umat Islam) melaukukan gerakan masa kembali ke rumah rantau dan atau ke tempat kerja masing-masing. Penulis sebut khususnya umat Islam karena ternyata tidak hanya umat Islam yang memanfaatkan liburan syawwal (idul fitri). Umat lain juga ikut serta memanfaatkan momentum tersebut dengan mengajak sanak-saudaranya berlibur, menyengaja berkunjung ke teman, saudara atau kerabat yang beragama Islam untuk bersilaturahmi.

Sampai di sini. Dalam perayaan Syawwal di Indonesia, ada gerakan massif masyarakat yang berbeda-beda karakter dan budayanya menjumbuh dalam satu niatan yang sama –merayakan lebaran. Dalam Syawwal ada cerminan kebhinekaan yang mengemuka dan tetap padu dalam satu keceriaan (rasa syukur) atasnama umat beragama (baca: Islam). Dalam syawwal, bisa jadi perbedaan menyelasar di hamparan “balai” Indonesia, tetapi tetap dalam satu kesatuan. Seperti halnya orkestra yang mempersembahkan beragam alat musik dan nada tetapi tetap dalam satu langgam irama. Syawwal adalah orkestra kebinekaan yang harus kita jaga. Semoga.

Tulis tanggapan anda: