Syekh Hasan Maolani Lengkong, Kiai Kampung Korban Islamophobia Kolonial

Syaikh Hasan Maolani adalah seorang Kiai kampung dari Lengkong Kuningan yang diteliti tidak hanya oleh sarjana Indonesia. Tapi juga sarjana-sarjana Barat.

Ini diungkap oleh M. Nida’ Fadhlan dalam diskusi Turats Ulama Nusantara yang bertema “Syaikh Hasan Maolani Lengkong, Jejak Kiai Kampung di Pengasingan Kolonial” di Islam Nusantara Center (INC), Sabtu (5/8).

Dalam presentasinya, Nida’ menceritakan bagaimana ia mempertahankan Syaikh Hasan Maolani sebagai objek penelitian Tesis dengan tidak menggunakan naskah asli.“Hasan maolani Ini orang penting, orang hebat, walaupun kiai kampung tapi diteliti oleh Drewes tahun 1925. Bahkan Drewes menyebutkan sebagai salah satu dari tiga Guru Jawa”, katanya.

Peneliti Barat lain adalah Babcock (1981), Bruinessen (1994), Laffan (2011) dan salah satu sejarawan Indonesia Fathurahman (2008),  dalam karyanya berjudul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau” dan terakhir sebuh buku terbit tahun 2014 karya Syarifuddin dengan perspektif arkeoloigs.

Sedangkan Nida’ sendiri ingin memberikan perspektif berbeda, dimana menjadikan surat-suratnya di pengasingan sebagai sumber primer penelitian. Pendekatannya sangat kaya. “Syaikh Hasan Maolani dilihat dari terekatnya oke, fenomenologisnya oke, arkeologisnya, termasuk perspektif etnografinya”, ujarnya.  

“Kiai kampung tapi dikaji secara global, kenapa? Ini yang perlu kita cari”, tandas peneliti PPIM UIN Jakarta ini.

Banyak Ulama-ulama yang besar juga kiai kampung. Tapi karena terus diendors dan dikaji oleh kita, kemudian akhirnya dikaji secara Global, mereka dikenal banyak orang. Banyak juga kiai kampung yang kemudian sukses dalam berbagai bidang.“Saya bangga menyebut eyang Hasan Maolani ini sebagai Kiai Kampung”katanya.

Begitu juga, menurut Nida’, sebutan “eyang”, digunakannya karena  ingin meletakkan sosok Hasan Maolani dalam konteks sosiologis . Sebutan ini digunakan oleh masyarakan sekitar dan para keturunannya di dalam karya tulis.

Dalam silsilah Kiai Hasan Mughni, Syaikh Hasan Maolani merupakan ke-12 dari Sunan Gunung Jati yang nasabnya sampai ke Rasulullah saw. Ia menghabiskan sisa umurnya di pengasingan kampung Jawa Tondano. Selama di Tondano, Beliau bertemu denga para pasukan Kiai Mojo, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro.

 

Menurut Zainul Milal Bizawie, Syekh Hasan Maolani Lengkong ini korban dari Islamophobia Kolonial Belanda Pasca Perang Diponegoro. Beliau dituduh mengajarkan pengamalan tarekat yang sesat, dan berani melawan kepentingan Kolonial. Dalam surat-suratnya, menurut Nida Fadlan, justru beliau menganjurkan kepada dzurriyahnya agar jangan sampai meninggalkan syariat. Meski di Pengasingan, beliau tetap memberikan semangat perjuangan melawan kolonial melalui surat-surat untuk keturunannya. (Damar)