Tahlil dan Do’a hari ke 7 Muhyiddin Arubusman di Penuhi Testimoni Para Tokoh

Jakarta-jagatngopi.com (18/4) Acara tahlil dan do’a di hari ke tujuh, senin (17/4) meninggalnya Muhyiddin Arubusman (10/4), mantan Ketum PB PMII dan Sekjen PBNU (1999-2004) dihadiri banyak orang. Selain warga masyarakat sekitar, majelis tahlil juga dihadiri oleh para Tokoh Nasional dan keder (aktivis) khususnya mereka yang dibesarkan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Rais ‘Aam PBNU (KH. Ma’ruf Amin), DR. H. Wahiduddin Adam, MA. (Hakim Mahkamah Konstitusi RI), H. Lily Wahid (adik kandung Gus Dur), KH. DR. Ali Maschan Musa (mantan ketua PWNU Jawa Timur), DR. H. Andi Jamaro Dulung (Anggota DPR RI), H. Chotibul Umam Wiranu, M.Si (Anggota DPR RI), dan DR. Djuri Ardiantoro (mantan Ketua KPU RI).

Kesempatan berkumpulnya para kader pergerakan dan Tokoh Nasional tersebut tidak disia-siakan begitu saja. Pascapembacaan Tahlil dan Do’a, acara dilanjutkan dengan rangkaian testimoni para sahabat dan yunior almarhum. Testimoni yang di pandu KH. Masrur Ainun Najih ini dimaksudkan untuk mengenang kebaikan dan jasa almarhum semasa hidupnya.

Testimoni pertama disampaikan Lily Wahid. Dalam kenangnya almarhum adalah orang yang baik. Ini dibuktikan dengan meninggalnya almarhum tidak banyak menyusahkan orang. Bisa dikatakan meninggal dalam keadaan tersenyum dan yang ditinggalkan penuh tangis kehilangan.

Pasca Lily Wahid, kesan tentang almarhum disampaikan oleh Wahidudin Adam, teman almarhum yang kini menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi RI. ini mengenang almarhum sebagi oranh yang punya dua prinsip (1) melayani banyak orang dan lebih mementingkan kepentingan orang banyak ketimbang dirinya sendiri, serta (2) prinsip hidup sederhana dan ikhlas.

Selanjutnya Ahmad Suherman. Kader yang menjabat sekjen mendampingi almarhum ketika jadi Ketua Umum PB PMII ini mengenang bahwa almarhum adalah sosok Ketua Umum yang sedikit bicara tapi banyak bekerja. Suherman berpesan bahwa penting kiranya para kader PMII mencontoh almarhum.

Secara berurutan testimoni dilanjutkan oleh Ali Maschan Musa, Ima Wahyunika dan Abdul Kholiq Ahmad. Ali Maschan menyampaikan prinsip penting kehidupan almarhum yang bisa memposisikan diri ketika berada di depan, tengah bahkan belakang. Prinsip tutwuri handayani benar-benar dipraktekkan semasa hidupnya. Sementara itu Ima Wahyunika dan Abdul Kholiq Ahmad menilai kebaikan almarhum sebagai pengkader ulung baik di gerakan maupun Nahdlatul Ulama.

Rangkain acara diakhiri dengan do’a dan bersama-sama menyanyikan Mars Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dipimpin oleh Luluk Nur Hamidah. (ast)