Teks dan Kita

Birka adalah sebuah kota tua di negeri Swedia, negerinya bangsa Viking. Dulunya pada abad IX dan X, Birka dikenal sebagai kota perdagangan. Tapi, sekarang tidak lagi. Di Birka ada sebuah gua tempat terkuburnya seorang perempuan Viking di sana. Perempuan Viking itu memakai cincin dengan hiasan batu mulia di atasnya. Bolehlah cincin dan batu itu kita bayangkan seperti batu akik dan ikatan logam yang mengikatnya. Cincin yang mengikat batu itu terbuat dari perak. Katanya, bagi bangsa Viking, perak lebih bernilai dibanding dengan emas. Sebab lebih bernilai itulah, orang-orang Viking berharap jika kelak meninggal maka dapat dikubur sambil menganakan perhiasan dari perak.

Tapi, bukan itu fokus yang hendak saya ceritakan lebih lanjut. Konon, para saintist telah melakukan penelitian terhadap batu yang terikat perak yang terkubur bareng dengan perempuan Viking tersebut. Itu ternyata bukan batu asli, melainkan kaca berwarna yang saat itu tercatat sebagai material paling eksotis bagi bangsa Viking. Teknologi bagi bagaimana kaca itu dibuat menyerupai batu bukanlah milik bangsa Viking. Sebab ternyata, batu tersebut dibuat pada ribuan tahun lalu di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara, pada masa kekhalifahan Abasiyyah.

Pada batu yang ternyata kaca berwarna itu terdapat tulisan Arab kuno yang terbaca berbunyi “Lillahi” atau “Untuk Allah”. Ya, hanyalah sepotong frasa itu saja. Namun, itu tetap saja satu kesatuan teks yang utuh yang melekat pada keseluruhan cincin batu tersebut. Tentu akan ada banyak tafsir yang menyeruak. Seperti, para sejarawan yang mencoba mengaitkan bagaimana cincin tersebut bisa sampai ke Birka: apakah bangsa Arab yang datang ke Birka mengingat Birka dulu kota perdagangan ataukah bangsa Viking yang sampai ke Timur Tengah mengingat mereka terkenal sebagai bangsa penjelajah.

Tetapi, terlepas dari perdebatan seperti itu, bagi saya, esensinya sebuah teks harus dipahami bahwa pesan yang dibawa oleh teks tidak selalu ditujukan kepada mereka yang hadir atau hidup saat teks itu diproduksi, tetapi bisa saja pesan teks tersebut membawa pesan kepada mereka yang punya jarak waktu yang panjang dengan saat teks tersebut menjadi teks, asalkan teks itu masih bisa terbaca dan ada orang yang tertarik menjelaskan hasil bacaannya.

Teks, bagi penganut Hallidayan, bukan semata-mata tulisan atau bacaan yang diterakan padanya huruf-huruf, melainkan bisa bentuk komunikasi lain, seperti lukisan, patung, wacana, khutbah, ceramah, bahkan potret selfie dan batu nisan. Pada teks selalu hadir tiga elemen penting di dalamnya: pemberi pesan, penerima pesan, dan pesan yang hendak disampaikan. Pada lukisan, pelukis adalah pemberi pesan yang menuangkan “pesan” melalui lukisannya itu, penerima pesannya adalah mereka yang bisa siapa saja yang dituju oleh lukisan itu, bisa sangat umum bahkan bisa sangat khusus, sedangkan pesannya adalah ide atau gagasan yang disembunyikan di dalam lukisan itu.

Sadarkah Anda bahwa foto selfi yang Anda buat itu adalah sebuah teks? Bayangkan ketika Anda berada di restoran akan menikati hidangan yang disajikan, lalu Anda membuat foto selfi dan men-upload kemudian menyebarkannya di media sosial, pasti tiga elemen tadi hadir di sana. Pembuat pesannya adalah Anda sendiri, penerima pesannya adalah teman-teman Anda yang tergabung dalam grup media sosial, lalu pesannya “Hai, saya sedang berada di restoran lho, saya akan menikmati hidangan ini” bisa sampai situ saja pesannya, atau bisa juga “Kapan-kapan kita ke sini barengan ya” atau juga sangat mungkin, “Elo ngak sanggup deh makan di sini!”

Teks adalah jejak sejarah kita. Sebab itu, buatlah sebuah teks yang punya makna bukan hanya buat kita sendiri, tetapi juga buat orang lain yang mengenal kita, bahkan orang yang akan punya jarak waktu sangat jauh dengan kita yang tidak pernah kita temui. Teks adalah sesuatu tentang kita yang ditafsirkan oleh orang lain.

Ragunan, 2 Maret 2016

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

One thought on “Teks dan Kita

Leave a Reply