Lebih Baik Dituduh daripada Menuduh

 

H. Matin Syarkowi  (Ketua PCNU Serang)

 

Dzussual adalah seorang pengemudi bajay yang rajin mengikut pengajian rutin setiap pagi di Sebuah Majlis Ta’lim. Selesai pengajian barulah dia mencari rizqi dengan menarik bajay. Di Majlis Talim itu Dzussual mengikuti pengajian kitab Qomitugyan lisyu’abil Iman karya Syeikh Nawawi Tanara al-Bantani (sebuah komentar Syeikh Nawawi al-Jawi atas karya Syeikh al-Mailabari).

Pada waktu aksi2 Bela Islam dia sering diajak oleh teman2nya untuk ikut aksi, tapi dia sepertinya lebih memilih ikhtiar mencari Nafkah untuk kehidupan anak istrinya. Dzussual tidak memperdulikan tudingan teman2nya yang menilai ketidakikutsertaanya dalam aksi “bela Islam” sebagai orang Muafiq, bahkan dituduh syarikan lilkafir.

Karena terlalu seringnya aksi “Bela Islam” dan Dzussual selalu tidak ikut maka tudingan2 munafiq dan syarikan lilkafir semakin tertuju kepadanya yang dilakukan teman2 se-profesinya. Dzussual lama kelamaan ada rasa gamang dan dalam kegamangan itu Dzussual mengahdap pada Ustadz yang mengajar di Majlis Ta’limnya itu. Sebut saja Ustad itu bernama Dzulbayan.

Dzussual: “Assalamu’alaikum ustadz…”

Dzulbayan: “wa’alaikum salam…eeh pak Dzussual…tumben jam segini datang ke sini…gak narik bajay…?”, tanya Sang Ustadz.

Dzussual: Hari ini sy tidak kerja Ustadz, karena saya ingin bertanya banyak hal kepada ustadz”, jawab Dzussual.

Dzulbayan: “oooh…silahkan…semoga atas pertanyaan bapak Allah berikan petunjuk kpada sy untuk bisa menemukan jawabanya”, balas sang Ustadz.

Atas penerimaan dan tanggapan Ustadz Dzulbayan dengan tutur kata dan sapa seperti itu Dzussual semakin mantap karena dalam benak fikiranya “….sungguh indah tutur kata dan sapanya dan nampak sifat dan sikap Tawadlu’ ustadz Dzulbayan”.

Dzussual: “begini ustadz…manakah yang wajib antara berikhtiar mencari nafkah untuk anak istri dengan ikut demo “Bela Islam?”.

Dzulbayan: “oooh…itu masalahnya…begini ya pak…mencari nafkah itu wajib dan itu juga termasuk “Bela Islam”…”.

Dzussual: “saya mulai gamang ustadz karena saya tidak ikut aksi lalu kata teman2 ku sy munafik dan dianggap bela kafir, menurut ustadz?”.

Dzulbayan: “hehehe, memanngnya pak Dzussual takut dituduh munafiq atau kafir..?”. Ustadz Dzulbayan berhenti sejenak sambil memandangi raut wajah pak Dzussual. “….begini pak…kita tidak perlu takut disalahkan karena kita belum tentu salah, tetapi yang harus kita takuti adalah berbuat salah…dan dalam hal ini lebih baik kita yang dituduh munafiq atau kafir sekalipun daripada kita yang menuduh kepada orang lain dengan tuduhan munafiq atau kafir”, jawab Ustad Dzulbayan.

Dzussual: “apa alasanya seperti itu ustadz?”.

Dzulbaya: “karena resikonya akan berbalik pada orang yang menuduh jika tuduhanya itu tidak benar dan sekalipun tuduhanya benar tetap saja menuduh itu bukan perbuatan terpuji”.

Dzussual: “saya juga diajak mendukung dan ikut aksi untuk mendirikan Khilafah, karena katanya mendirikan Khilafah itu hukumnya wajib dan dia menyampaikan dalil ayat Quran Hadits dan saya bingung ustadz kalau saya tidak mendukung untuk mendirikan Khilafah saya berdosa, saya mohon pencerahannya ustadz”.

Dzulbayan: “Ayat Quran atau Hadits yang disampaikan mereka sebagai dalil untuk mendirikan Khilafah itu benar dan tidak boleh disangkal kebenaranya…tetapi…ingat ya pak saya ulangi tetapi mereka itu menempatkan ayat Quran dan Hadits tidak pada tempatnya. Agar lebih jelas saya kasih perumpamaan begini…bapak lagi bersemangat ingin menghafal ayat2 Quran dan Hadits…lalu bapak saking semangatnya menghafal Quran dan Hadits sambil buang hajat…naah…semangat menghafal Quran dan Haditsnya sangat baik, tetapi pekerjaan menghafal Quran dan Hadits sambil buang hajat atau di tempat buang hajat hukumnya haram. Nah…dalam konteks hukum mendirikan Khilafah menurut ayat dan hadits memang Wajib…Tetapi bisa jadi justru Haram…seperti di Indonesia. Wajib mendirikan Khilafah itu apabila dan untuk di wilayah yang belum terbentuk “khilafah”. Sedangkan di Indonesia Khilafah itu sudah terbentuk secara resmi dan sah sejak tahun 1945. Jadi mendirikan Khilafah di Indonesia itu hukumnya haram. Yang perlu diingat bahwa sesuatu yang dihukumi wajib itu tidak terlepas dari syarat masyrutnya. Lebih sederhananya Hukum Wajib mendiriman Khilafah itu harus ditinjau dari sudut “min haitsu hua…laaah…kalau di Indonesia ini kan sudah berkhilafah yaitu, bentuk negaranya jelas yaitu NKRI, Ideologi berbangsa dan bernegaranya jelas yaitu Pancasila, Konstitusinya sudah jelas yaitu UUD 1945, bahkan Sosio-kulturnya juga sudah jelas yaitu Bhineka Tunggal Ika. 

Dzussual: “Tapi ustadz kata mereka Pancasila dan UUD 45 itu tidak bersumber dari Quran Hadits dan karenanya itu termasuk Thogut karena berdasarkan fikiran manusia saja…gimana ustadz?”

Dzulbayan: “begini pak…segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan kesahlahatan ummat pasti sumbernya dari Kalamullah. Kalau kita betul2 meyakini bahwa sumber yang membawa kebaikan dan kemashlahatan itu dari Allah dan Rasulnya maka tidak perlu diperdebatkan (la tusal). Kalau mau semua persoalan dilihat dari tekstual Quran Hadits, apakah Lampu Hijau kendaraan jalan, lampu kuning hati2/waspada dan Lampu Merah berhenti itu ada dalam Quran Haditsnya? Pak Dzussual, kalau kita mau bahas agama maka kita mulai mengenal apa yang populer dengan istilah Arkanuddin. Iman, Islam dan Ihsa. Walaupun ia merupakan satu kesatuan yang tdak terpisahkan tetapi dalam kontekstualnya memiliki bahasan masing2. Pembahasan soal mendirikan Khilafah bukan bagian dari bahasan Ushulu, tetapi masuk dalam bahasan Furu’. Dalam hal soal Furu’iyah maka pejabaranya dalam kerangka oprasionalisasinya ada yang mutlak tanpa “intervensi” fikiran manusia dan ada yang “intervensi” fikiran manusia. Mengapa? Karena Quran dan Hadits itu bukan hukum tetapi Sumber Hukum dan bahkan kalau dalam pembahasan Sumber Hukum Islam tidak terbatas pada Quran dan Hadits melainka juga Ijma dan Qiyas adalah Sumber Hukum Islam.

Dzulbayan: “pak Dzussual sdah faham?, tanya ustadz

Dzussual: “Insya Allah pak Ustadz, saya sekarang Insya Allah merasa lega dan saya tidak takut menentang upaya setiap gerakan yang hendak  pendirian Khilafah di Indonesia karena akan menimbulkan kemafsadatan. Saya ingat kata ustadz tempo hari “dar-ul mafasid muqodamun ‘ala Jalbilmasholih dan saya juga masih ingat bahwa “la yajuzu isbatul hukmi biddalil, liannaddalil istimbatulhkmi, Insya Allah Ustadz sy juga masih tetap ingat bahwa menatapkan hukum itu berdasarkan ‘illat dan yang penting saya ingat juga pesan dari Ustadz soal keharusan menjaga lisan makanya say kalau kelupaan habis mencacimaki orang sekarang saya mengucapkan Istigfar bukan mengucapkan Takbir ustadz, terimakasih ustadz”…kata pak Dzussual mengahiri pembicaraanya sambil tersenyum.

Dzulbayan: “alhamduliillah, subhanallah wallahu akbar walahaula wala quwwata illabillah…Semoga Allah tetap memberikan taufiq dan Hidayah kpada kita semua ya pak. 

Dan juga perlu diingat soal menjaga lisan tadi berlaku bagi siapapun kepada siapapun dan ahirnya kita harus tetap mengucapka Wallahu a’lamu bishowaaab.