Tentang Portal nikahsirri.com, Adhe Bagus Said: Mencegah Zina Bukan itu Solusinya!

Masih dalam hitungan hari -artinya masih hangat dibicarakan- public dikejut-kagetkan dengan munculnya portal www.nikahsirri.com yang menyajikan konten ajakan pada masyarakat yang berkeinginan untuk nikah sirri bisa dimediasikan lewat media tersebut. Berbagai perangkat penyerta agar layanan bergayung sambut di khalayak pun agaknya sudah dipersiapkan sedemikian rupa, mulai dari internal web/situs sampai dengan eksternal web/situs seperti pembentukan partai ponsel, quote pemasaran dan lain sebagainya.

Konon dalam waktu singkat portal yang oleh sebagian orang disebut sebagai media prostitusi terselubung tersebut sudah berhasil menarik simpatik klien sebanyak 2000 orang. Bisa jadi klien dimaksud bukan hanya sebagai pembaca dan atau penikmat informasi tentang nikah sirri un sich, tapi lebih dari itu, pembaca yang menimbang untuk mengikuti tujuan portal tersebut.

Mengemukanya ihwal nikkah sirri yang disuguhkan portal di bawah kendali pria bernama Aris Wahyudi itu kontan menyeruakkan protes keras dari berbagai kalangan (public). KPAI misalnya, melalui Susanto, Ketua KPAI menyatakan bahwa Nikah Siri yang ada di portal tersebut bisa menimbulkan persepsi yang salah karena memiliki tagline, “Mengubah zinah menjadi ibadah”. Situs tersebut adalah kejahatan dengan dalih agama. Menurutnya, agama itu tidak sesederhana di situs tersebut, nikah siri pun enggak sesederhana yang ada di situs itu. Ke depannya kami mengimbau agar masyarakat tidak terjebak (24/9).

Singkat kata, portal nikahsirri.com begitu mengagetkan kita semua. Untuk mengetahui bagaimana pendapat masyarakat tentang portal nikahsirri.com, jagatngopi.com mencoba mewawancarai salah satu ketua PP GP Ansor, Adhe Bagus Said.

Bagaimana pendapat anda tentang Portal nikahsirri.com?

terlepas dari kedok apapun yang dijadikan alasan, itu adalah modus prostitusi terselubung yang dikemas begitu apik dan menarik. Kenyataan ini hal ini menampar kesadaran kita dalam berbangsa dan bernegara, sudah sejauh itukah keteledoran kita membiarkan begitu banyak hal yang meruntuhkan kehidupan moral-sosial kita. Agama tidak bisa bahkan mengharamkan untuk dijadikan kedok dan alat untuk mencari keuntungan pribadi.

Perlukah tindakan hukum?

Ya, harus. Pemerintah harus bertindak, dalam hal ini aparat kepolisian yang memproses secara hukum karena hal ini sudah sangat kelewatan, dan tidak pantas dilakukan oleh siapapun.

Bukankah banyak juga sebagian masyarakat yang nikah sirri?

Portal nikahsirri.com di luar nalar manusia normal yang membuatnya, bukan menyelesaikan masalah tapi menambah masalah baru, kalau toh prilaku nikah siri itu ada bukan berarti harus dilembagakan atau dipublish dengan seperti itu yang justeru sangat merugikan bagi perempuanya, sudah seharusnya ditertibkan dengan mengembalikan pada undang-undang yang berlaku,

Perlukah pemerintah memberiakn pemahaman tentang ha tersebut?

Saya kira bukan hanya pemerintah,tapi kita semua, masyarakat luas. Tapi memang pemerintah harus punya andil besar memberikan pemahaman bahwa praktek-praktek seperti ini sudah pemerintah harus langsung mencegahnya, karena hal itu jelas-jelas bertentangan dengan hukum pernikahan yang berlaku di Indonesia dan adat serta budaya masyarakat Indonesia,

Tagline nikahsirri.com untuk mencegah zina, artinya menyertakan perintah agama, menurut Anda?

Harus diakui mungkin dibeberapa daerah praktek nikah siri ada tapi tidak selayaknya untuk diformalkan tanpa melihat hukum pernikahan yang ada di negara ini. Kalau kita tidak bisa mencegahnya bukan berarti kita menjadi bagian yang menambah kerumitan masalah, apalagi menggunakan agama sebagai kedoknya. hal seperti ini sangat mungkin disalah pahami dan disalah artikan, dan cenderung kepada perdagangan sek bebas semata. Saya tidak akan membahas soal hukum nikah sirinya karena hal itu masih banyak perdebatan dan otomatis bertentangan dengan hukum negara yang kita ikuti, satu sisi adat dan budaya kita di Indonesia pun tidak ada yang mendukungnya. Kalau alasan zina bukan dengan seperti itu solusinya, masih banyak cara yang lebih beradab dan bermartabat, kalau sekedar nyari sensansi dan popularitas masih banyak juga cara yang lebih mendidik dan manusiawi untuk terus saling mengingatkan dan menjaga kehormatan sebagai sesama manusia, yang sudah semestinya terus memperbaiki diri.

Tulis tanggapan anda: