Ber-NU ala Hasyim Asy’ari : yang Terserak di PKPNU Madura Raya

Catatan Kesaksian

A. Dardiri Zubairi Peserta PKPNU dari PCNU Sumenep

 

Tiga bulan sebelum pelaksanaan saya sudah mendengar dari A. Waris, sekretaris PCNU Sumenep bahwa akan ada PKPNU MADURA RAYA. Niat saya yang sebelumnya mau ikut PKP di luar Madura saya urungkan. Alasannya simpel, lebih dekat.  

Satu bulan jelang pelaksanaan, korda Madura berkumpul di kantor PCNU Sumenep. Salah satu agenda yang dibahas soal PKPNU, utamanya tempat. Waktu itu semua PCNU keberatan menjadi tuan rumah PKPNU karena bersamaan dengan kesibukan mempersiapkan Harlah NU, kecuali Sumenep. Cuma Sumenep alternatif terakhir karena faktor jarak yang jauh bagi instruktur nasional. Akhirnya rapat korda memutuskan antara Sampang dan alternatif terakhir Sumenep.

Hingga 20 hari jelang hari H, Sampang ternyata tidak siap. Tiba-tiba Bangkalan yang sebelumnya menolak, justru menyatakan siap. Jadilah PKPNU Madura Raya di PP Nurul Khalil dan pembaitan di PP Syaikhona Khalil Demangan Bangkalan. Apakah kesiapan bangkalan di masa-masa injury time kebetulan? Saya rasa tidak. Tak ada kebetulan di dunia ini. Semua atas kehendak-Nya.

Sepertinya PKPNU di Bangkalan adalah isyarah, mbah Khalil memanggil kita. Kita ditakdirkan ke Bangkalan untuk menghirup dan meneguk spirit, keikhlasan, kekitaan, dan membangun ingatan dan tindakan kolektif kembali akan cita awal didirikannya NU oleh para muassis dimana mbah Khalil sebagai mentor spiritualnya. Bangkalan adalah titik sentrum dan kita semua sudah merasakan magnetnya.

Adakah magnet itu kita biarkan dan kita kembali lagi tergoda menjadi NU rasa FPI, atau rasa Liberal? Tentu kita berharap tidak. Ketika kita dibaiat dekat langgar Syaikhona sejatinya kita telah menerima tongkat, tasbih, dan ayat musa kembali. Kita menjadi pengurus NU seakan diingatkan kembali akan pentingnya tasbih  di tengah kehidupan yang sibuk memegang kakulator, tongkat kemana seharusnya kita berpegang dan membangun barisan dan ayat musa yang kita jadikan jimat melawan fir’un baru. Simbol mbah Khalil itu yang diberikan kepada Hadratussyekh sungguh masih kontekstual di tengah badai dan prahara kebangsaan saat ini, termasuk di MADURA yang sudah menasbihkan NU sebagai “agama”.

Keikhlasan. Itulah salah satu karakter kyai dahulu. Menjadi NU butuh keikhlasan. Jika masih tergoda di luar NU hakikatnya kita tidak ikhlas. Inilah pelajaran dari mbah Khalil yang tak disangka saya terima 2 hari setelah saya pulang dari Bangkalan.

Lagi-lagi kebetulan? 

Saat takziah ke wafatnya Ibu KH. Ramdhan Siradj saya beruntung bertemu dengan Ra Humron, keluarga bani Khalil yang beristri salah seorang putri pengasuh Annuqayah Guluk-Guluk. Beliau bercerita bahwa mbah Khalil memiliki putra kyai Imron. Kyai Imron ini alim tapi mbah Khalil melarang beliau mengajar atau membuka pesantren dengan alasan, biar para calon santri mondok ke KH Hasyim Asy’ari Jombang, ke Lirboyo, atau ke Sidogiri. Beliau menghendaki pesantren muridnya besar. Kyai Ramdhan menguatkan, kyai Ilyas Syarqawi pengasuh ke 2 pesantren Annuqayah ketika dulu mau nyantri ke Mbah Khalil malah diarahkan untuk nyantri ke Tebuieng kepada Hadatussyekh. Inilah mbah Khalil, sang Waliyullah dengan sikap tawadlu’nya “bemakmum” kepada kyai Hasyim Asy’ari, muridnya sendiri. 

Dalam kontes sekarang, ikhlaskah kita berjamiyah? Jika begitu, berarti kita juga harus ikhlas dikomado. Barangkali penting saya menulis diasuh kyai Ramdhan, “saya ber-NU karena guru saya NU, inilah organisasi yang sanadnya jelas. Seandainya saya harus sendiri ber-NU, saya akan tetap NU.

Sekali lagi, kita bersyukur ikut menjawab panggilan mbah Khalil dengan sebab PKPNU. Selama 3 hari kita nyantri. Kita didekatkan pada titik episentrum NU. Dan magnetnya telah kita rasakan. Ada banyak kejadian tak logis, tidak rasional, dan tak bisa dinalar. Di samping tempat yang di luar perkiraan akan ditaruh di Bangkalan, ketika pulang di Bis saya diberitahu kiai marham bahwa beliau melihat “teja” (istilah madura untuk menjelaskan kilatan cahaya suci yang bergerak cepat membelah angkasa di malam hari) saat pembaiatan. Bukan hanya beliau,  menurutnya kyai Hasbullah juga melihatnya.

Wallahu A’lam