Yesus dari Nazareth

Para ahli hukum Alkitab beserta orang-orang Farisi menghadapkan pelacur pada Yesus di Bait-alah, meminta Yesus merajam perempuan pezinah sebagaimana hukum Musa dalam Taurat.
Yesus acuh tak acuh. Ia berlutut, menulis-nulis tanah dengan jarinya. Para ahli Taurat mendesak. Yesus berkata ringan: “Barangsiapa di antara kamu tak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu pada perempuan itu” (Yohanes 8:7).
Mereka bubar, tak satu pun merasa tak berdosa. Perempuan kotor itu diterima Yesus dalam kasih-Nya.
Kisah masyhur dalam Injil itu mengusik. Kenapa Isa menulis-nulis di tanah, acuh tak acuh terhadap para ahli Taurat yang meminta penghakimannya? Seoalah Isa hendak berpesan perihal yang tak tampak, tapi mengatasi hukum dan persepsi manusia atasnya. Itu yang bagi Yesus disebut iman, yang tak belaka percaya dan terikat segala yang tampak, tapi juga pada yang tak tampak, bahkan yang tak ada dalam kitab suci sekalipun. Pakar hukum Taurat boleh keliru meletakkan hukum dengan persepsinya. Tapi, iman tak akan meleset.
Keimanan bukan menerima yang baik belaka dari yang dikasihi, pun menerima yang buruk dan tak terduga darinya. Ia lampu dalam gelap, harapan bagi keputusasaan, cahaya yang mengutuhkan manusia dengan segala perbedaan dan pertentangan-pertentangan lazim dalam kehidupan. Isa jadi martir dalam penyiksaan, pedihnya rasa sakit yang tak terbayangkan. Tapi, cinta yang luhur mengalahkan rasa sakit yang amat sangat. Itu dibuktikan Yesus dalam sejarah, sebagaimana Nabi Muhammad memaafkan dan mendoakan surga orang-orang yang mengusir dan melemparinya dengan batu dan kotoran di Thaif.
Tentu kita bukan Isa dan Muhammad. Meniru dengan maksud menyejajarkan diri dengan Isa dan Muhammad adalah lancang. Tiba-tiba kita merasa paling suci. Tapi, kewajiban orang yang mengimani Isa dan Muhammad adalah meneladani keduanya. Meneladani untuk meraih nilai-nilai kemanusiaan (iman) yang dipegang teguh Yesus dan Muhammad hingga keduanya sanggup menundukkan kepedihan sejarah dengan cinta dan keteguhan hati. Meneladani bermakna menyamakan sifat dengan upaya sekuat tenaga. Bukan menyejajarkan diri yang bermakna “ngelamak” (lancang), yang membuat orang congkak; menolak keluhuran, merendahkan keadaan dan sesama makhluk Tuhan.

*

Bagi Jorge Luis Borges, surga adalah sebuah perpustakaan raksasa. Tapi, yang sunyi. Membaca di meja yang dingin, dikepung buku-buku.
Sastrawan agung Argentina itu mengagumi postulat George Berkeley, bahwa obyek itu ada lantaran dipersepsi pikiran. Dunia materi sejatinya ide-ide manusia, ia tak benar-benar nyata. Idelah yang nyata. Dunia materi tak akan pernah ada di luar kesadaran, ia mewujud tatkala ditangkap oleh persepsi-persepsi.
“Esse est percipi,” ujar Borges dalam postulat George Berkeley: being is being perceived!
Dalam cerita Borges, seorang presiden bola Abasto Junior mengatakan pada seorang komentator bola, Ron Ferrabas, bahwa Abasto akan dikalahkan dengan skor 2-1. “Jangan gunakan lagi umpan Musante ke Renovales. Ingat! Imajinasi! Sekali lagi, imajinasi!” ujarnya.
Sahdan, perhelatan sepak bola yang menghebohkan seluruh negeri ternyata cuma tipuan. Tak ada kesebelasan, tak ada skor, tak ada pertandingan. Stadion sudah dimusnahkan. Pertandingan bola hanya dibuat oleh tivi dan radio seperti membuat drama. Kehebohan palsu para kementator. Di Buenos Aires sejak 24 Juni 1937, sepak bola hanya drama, dimainkan satu orang di balik bilik, aktor berkostim yang direkam tivi. Begitu penjelasan presiden Abasto Junior dalam Borges.
Mengikuti cerita pendek Borges, saya bayangkan betapa kehebohan penggemar bola itu ternyata diciptakan dengan kebohongan komentator bola radio atau drama omong kosong layar visual. Mereka tak sadar, dalam kenyataan tak pernah terjadi apa-apa!
Tentu ini hanya fiksi Borges yang unik karena komposisi “bersejarah”nya yang masyhur itu. Namun, hari ini nyatanya, kita tak sadar beriman pada berita, informasi, ujaran, iklan, atau apa pun yang ditampilkan layar audio-visual. Tapi, omong kosong! Sesuatu yang diada-adakan, diolah sedemikian rupa oleh seseorang atau sejumlah orang dengan kepentingan-kepentingan yang bermuara pada pembentukan persepsi publik atas suatu peristiwa; penggiringan opini, atau kebohongan yang nyaris serupa kenyataan.
Tapi, tenang! Orang beriman bisa mencicipi segala tampilan sambil minum kopi, berjarak dari semua itu guna melihat yang sebenarnya kenyataan, bukan kenyataan yang sebenarnya kepalsuan. Di dunia nirkabel, konfirmasi dan penelusuran kebenaran suara dan layar adalah vital.
Kekuasaan dan pragmatisme menjaya lantaran memproduksi kebohongan yang berhasil menipu persepsi orang terhadap realitas obyektif, menyusun realitas yang diandaikan, lalu dikemukakan sebagai materi bagi pikiran. Celakanya, hukum sering terpengaruh persepsi pada realitas yang dusta itu.
Manusia perlu penerang gelap, melihat yang tampak dan yang tersembunyi di balik yang tampak dengan akal sehat: iman dan kemanusiaan.
Muncar, 2017

Artikel ditulis oleh Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..